<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ius T Artanto</title>
	<atom:link href="http://iustartanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iustartanto.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Jun 2009 12:56:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='iustartanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ius T Artanto</title>
		<link>http://iustartanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://iustartanto.wordpress.com/osd.xml" title="Ius T Artanto" />
	<atom:link rel='hub' href='http://iustartanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://iustartanto.wordpress.com/2009/06/10/21/</link>
		<comments>http://iustartanto.wordpress.com/2009/06/10/21/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 12:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iustartanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iustartanto.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Meniru karya lagu orang lain, seolah bagai virus yang menjangkiti mayoritas musisi pop Indonesia sejak empat dekade silam hingga kini. Lalu, apakah ini bisa disebut semacam penyakit yang sulit disembuhkan? Dan, mengapa ada istilah meme sebagai biang keladi munculnya ”virus peniru” yang dilontarkan para pakar? Oleh : Ius T. Artanto Sudah bukan rahasia, sejumlah karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=21&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;">Meniru karya lagu orang lain, seolah bagai virus yang menjangkiti mayoritas musisi pop Indonesia sejak empat dekade silam hingga kini. Lalu, apakah ini bisa disebut semacam penyakit yang sulit disembuhkan? Dan, mengapa ada istilah meme sebagai biang keladi munculnya ”virus peniru” yang dilontarkan para pakar?</div>
<div style="text-align:center;">Oleh : Ius T. Artanto</div>
<div>Sudah bukan rahasia, sejumlah karya musik pop Indonesia didominasi upaya peniruan. Para awam pun sudah mengetahui aksi peniruan atau penjiplakan tersebut. Karena mereka juga punya bukti akurat, yang ditulisnya di blog masing-masing. Dan yang memprihatinkan, si musisi kerap berkelit secara klise melalui tameng peraturan Konvensi Berne, jika mirip lebih dari 8 bar, maka disebut menjiplak. Parahnya, alasan tersebut juga dijadikan ”senjata pembela” bagi para pengamat musik di media massa, khususnya radio dan televisi, yang seharusnya objektif dan kritis. Karena, ketika informasi disampaikan media massa, publik berhak mendapat kebenaran informasi. Tapi faktanya, malah sebaliknya. Informasi mengalami distorsi, hanya karena media mempunyai beragam kepentingan.</div>
<div>
Menurut Yasraf A. Piliang dalam Posrealitas (2004), perbincangan mengenai media tidak dapat dipisahkan dari kepentingan di balik media tersebut, khususnya kepentingan informasi. Ada dua kepentingan utama di balik media, yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan kekuasaan, yang membentuk isi media, informasi yang disajikan, dan makna yang ditawarkannya. Di antara dua kepentingan tersebut, ada kepentingan lebih dasar yang terbaikan, yaitu kepentingan publik. Kuatnya kepentingan ekonomi dan kekuasaan politik menjadikan media tidak dapat netral, jujur, adil, objektif, dan terbuka.</div>
<div>
Maka, sekalipun media radio dan televisi menyiarkan lagu-lagu pop yang dianggap menjiplak, publik akhirnya menerima lagu-lagu tersebut sebagai hal yang lumrah, karena media menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Pembenaran ini dikuatkan oleh peneguhan dari nara sumber yang berperan sebagai pengamat. Sebab, Alexis S. Tan dalam Mass Communication Theories and Research (1981), berpendapat, media massa bukan sekadar mengubah atau memperkuat opini, sikap dan perilaku, tapi juga menjadi agen sosialisasi dalam menciptakan dan membentuk nilai, persepsi, sikap, perilaku mengenai realitas sosial. Sikap memaklumi dan permisif atas budaya menjiplak lagu, bukan baru ini saja. Malah terjadi puluhan tahun silam. Sejak memasuki masa industri rekaman melalui media piringan hitam pada 1950-an dan 1960-an, pita kaset (1970-1980-an), CD audio (1990-an), sampai era digital berformat MP3 (2000-an), pada prosesnya, musisi seolah terjangkit ”virus peniru” yang semakin lama semakin menggumpal bagai sebuah bola salju.</div>
<div>
Kemajuan di bidang industri komunikasi, memungkinkan orang dengan mudah menyimpan informasi, termasuk lagu-lagu kesukaan. Dampaknya, justru menjadi pemicu peniruan karya. Menurut Armahedi Mahzar dalam Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas (2006), ”kemungkinan besar penyimpanan informasi itu dalam konfigurasi jaringan sel-sel saraf di dalam otak bernama neuron. Nueron-nueron itu dalam sejarahnya dibantu oleh media penyimpanan informasi di luar tubuh manusia. Mulai dari lukisan dinding di gua, lembar-lembar papirus, buku-buku, pita rekaman, dan kini berupa disket, atau CD dan DVD.”</div>
<div>
Bahkan sejak 2005, banyak orang menyimpan data menggunakan flashdisc, yang praktis dengan kapasitas penyimpanan berskala besar lalu dipindahkan ke komputernya. Maka itu pula, flashdisc dianggap memudahkan aksi copy paste. Akibatnya, terjadi penjiplakan karya musik, film, buku, dan karya ilmiah secara lebih mudah.</div>
<div>
Lalu, yang menjadi persoalan, mengapa musisi tak juga jera untuk menjiplak? Padahal dikemudian hari, cepat atau lambat, bisa merusak citra dirinya di benak persepsi publik. Namun, jika merujuk pendapat Richard Dawkins, seorang biolog, mengenai fenomena jiplak-menjiplak atau niru-meniru lagu, mungkin kita bisa juga maklum. Dikatakan Dawkins, dalam The Selfish Gene (1976) pada sub judul; Memes: The New Replicators, produk budaya manusia bagai meme (baca: mim). Meme adalah sebuah replikator, makhluk yang memperbanyak diri. Meme diturunkan melalui transmisi budaya yaitu peniruan. Contoh-contohnya adalah, gagasan atau ide, ucapan populer, lagu, mode busana, cara-cara pembuatan keramik dan bangunan arsitektur, termasuk juga lelucon, kata-kata, gaya para komedian dan presenter di layar kaca. Lebih rinci Dawkins berpendapat, meme itu meloncat dari satu otak ke otak manusia lain melalui proses peniruan.</div>
<div>
Memperkuat pendapat Dawkins, Daniel Dennett, filsuf neo-darwinisme yang mempopulerkan konsep meme, secara provokatif menyatakan, manusia adalah monyet yang otaknya kejangkitan banyak meme. Meme itu semacam virus, yaitu virus pikiran. Dan istilah meme berkaitan dengan kata mimesis dari bahasaYunani, yang berarti meniru.</div>
<div>
Tampaknya, pendapat pakar di atas mengenai ”virus peniru” menjadi suatu kewajaran, ketika banyak orang juga melakukan suatu peniruan di berbagai bidang. Misalnya, jika ke mall dan super market, kita bakal menemukan sejumlah produk aspal (asli tapi palsu), antara lain, jam tangan, celana, baju, kaca mata, minyak wangi, air mineral botol, tas, dompet, dan banyak lagi. Namun, kemunculan produk-produk tersebut kurang menimbulkan protes, seolah masyarakat maklum. Lain jika di dunia seni dan sastra, dipastikan kritikan terlontar. Sebab, seni dan sastra adalah produk yang bertujuan untuk keindahan. Keindahan akan berkurang kadarnya, jika mengandung sesuatu yang mencemarkan produknya. Tak heran kritik bermunculan, saat masyarakat tahu, ternyata film Z menjiplak film X. Seperti kritik terhadap Ekskul, pemenang Festival Film Indonesia 2005, banyak kalangan mempertanyakan mengenai orisinalitas atas karya musik soundtrack-nya yang menjiplak Gladiator dan Munic. Begitu pun untuk produk musik, masyarakat akan bereaksi tatkala lagu tersebut ternyata hasil jiplakan. Seperti dialami band D’Massive, yang dituduh menjiplak dari karyanya kelompok Incubus, My Chemical Romance, Lifehouse, dan Swicthfoot.</div>
<div>
Lantas, apakah karya lagu yang dituduh menjiplak itu sebelum dilempar ke pasar diketahui eksekutif produser? ”Terus terang, saya tidak mengetahui jika lagu yang ada di album D’Massive dianggap masyarakat adalah lagu jiplakan. Tapi ini suatu kritik yang membangun buat D’Massive agar bisa berkarya jauh lebih baik lagi,” ungkap Indrawati Widjaja dari Musica Studio selaku Eksekutif Produser band D’Massive. Meski begitu, faktanya, ada juga beberapa produser nakal yang secara sengaja menyuruh musisi untuk melakukan penjiplakan.</div>
<div>
Berdasar catatan, sebagai perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, Musica Studio bukan kali ini saja mengalami tuduhan penjiplakan terhadap artis musiknya. Lagu Hip Hip Hura dan Jumpa Pertama yang dinyanyikan Chrisye telah mengambil intro lagu Footloose (1984) karya Kenny Loggins dan melodi Morning Train (Nine To Five) yang dilantunkan Sheena Easton, 1981. Juga lagu dari Trio Libels berjudul Aku Suka Kamu (1990) telah mencangkok nuansa musik She Drive Me Crazy (1989) dari Fine Young Cannibals. Namun, sebetulnya yang perlu dicermati, tuduhan penjiplakan seharusnya tidak ditujukan kepada artis penyanyi atau eksekutif produser, tapi terhadap aranjer atau pencipta lagunya.</div>
<div>
Grup D’Massive memang tidak sendirian. Sebelumnya, ada beberapa grup band yang juga melakukan gaya copy paste. Band J-Rock dianggap menjiplak lagu-lagu dari L’Arc-en-Ciel dan Laruku dalam meramu sajian musiknya. Hal senada juga tertuju kepada nama-nama kondang sebagai plagiat, yaitu Fariz RM, Dorie Kalmas, Yongkie Suwarno, Dhani Ahmad, Slank, Melly Goeslaw, Bebi Romeo, Sheila On 7, Padi, Peter Pan, Ungu, Dewiq, dan masih banyak sederet nama lainnya.</div>
<div>
Tapi, inti persoalannya, menjiplak tidak sama dengan terinspirasi atau ter-influence/terpengaruh dalam arti meniru tanpa sadar (reminiscences/reminicenza). Terpengaruh dalam konteks ini, si musisi secara sadar mengagumi artis idolanya, seperti Fariz RM mengagumi Earth, Wind, and Fire dan Beegees, sehingga teknik bernyanyinya bergaya kopstem/falsetto. Begitu juga Dhani mengidolakan Led Zeppelin dan Queen, serta film The Godfather. Baik gaya maupun karya musiknya, sehingga secara otomatis aura sang idola melekat pada diri maupun karya ciptanya, juga memengaruhi penciptaan tipe hurufnya grup The Rock dan The Swinger. Menurut Japi Tambajong yang dikenal dengan nama Remy Silado dalam Ensiklopedi Musik 2 (1992), reminicenza diartikan sebagai suatu kekuatan ataupun kelemahan ingatan pada pendengaran atau penglihatan suatu karya seni, yang dengannya berkaitan rapat pengaruh dalam dunia penciptaan.</div>
<div>
Secara konotatif, musisi tidak menyadari karyanya tersebut terpengaruh, sehingga menjadi mirip dengan karya orang lain. Hal ini bisa saja dimungkinkan, karena si musisi pernah mendengar karya lagu tersebut sebelumnya dalam beberapa waktu lalu. Dan, ketika ia sedang mencipta lagu, tanpa disadarinya, tiba-tiba muncul kembali beberapa atau serangkain melodi/sound yang tersimpan dalam memori otaknya.</div>
<div>
Prinsipnya, menjiplak berbeda dengan terpengaruh atau reminiscence. Yang terpenting, si musisi bisa jujur mengenai karya ciptanya itu. Seperti halnya Madonna yang secara sengaja dan meminta izin kepada ABBA, ketika potongan intro lagu Gimme Gimme dijadikan intro untuk lagu Hung Up (2006). Atau Procol Harum secara terus terang mengakui ketika menyelipkan sebagian melodi Suite No. 3 in D Major dari karya Bach lewat lagu Whiter Shade of Pale (1967). Juga grup Konkan pada lagu Harry Houdini di dalam sampul kasetnya mencantumkan bagian lagu yang ditirunya, The Tide is High yang dinyanyikan Blondie. Dan yang membanggakan, belakangan, ada kesadaran beberapa musisi pop Indonesia, untuk mencantumkan judul lagu dan pencipta di sampul album sebagai hasil pengaruh atau mengambil karya lagu orang lain. Jika begitu, lalu sebenarnya apa tujuan para musisi melakukan penjiplakan?</div>
<div>
”Menurut saya, tujuannya karena ingin laku. Dan itu merupakan cara termudah untuk mencipta lagu. Tapi yang juga perlu dibedakan adalah perbedaan antara menjiplak dengan terpengaruh. Menjiplak itu kalo not atau melodinya persis sama. Tapi kalau cuma musiknya rada mirip dengan lagu yang ada, itu namanya terpengaruh. Sebab menjiplak itu memang disengaja. Sedangkan terpengaruh tidaklah disengaja. Karena si musisi tidak menyadari bahwa karyanya itu ternyata mirip dengan yang sudah ada,” jelas Andi Julias, salah satu produser dan musisi senior dari grup band Makara dan penggiat aliran musik progresif.</div>
<div>
Musik pop yang telah menjadi bagian industri rekaman, dalam prosesnya semakin lama memang terdengar mirip satu dengan lainnya. Seperti dikutip Dominic Srinati (Popular Culture/2004), menurut Theodore Adorno dalam The Culture Industry (1991), ”Musik pop yang dihasilkan dari industri budaya didominasi oleh dua proses; standarisasi dan individualisasi semu. Dasar gagasannya adalah, bahwa lagu-lagu pop makin lama makin kedengaran mirip satu sama lain. Lagu-lagu itu semakin banyak dicirikan oleh struktur inti, yang bagian-bagiannya dapat dipertukarkan satu sama lain.”</div>
<div>
Detilnya, standarisasi merujuk pada kemiripan mendasar di antara lagu-lagu pop. Sedangkan individualisasi semu mengacu terhadap perbedaan-perbedaan yang sifatnya kebetulan. Standarisasi mendefinisikan cara bagaimana industri budaya mengatasi segala macam tantangan, orisinalitas, otentikitas, atau pun rangsangan intelektual dari musik yang dihasilkannya, sementara individualisasi semu memberikan ”umpannya”, keunikan atau kebaruan nyata dari lagu tersebut bagi konsumen. Standarisasi mengandung pengertian bahwa lagu-lagu pop makin mirip satu sama lain, dan bagian-bagian, bait-bait maupun kordnya semakin dapat saling dipertukarkan, sementara individualisasi semu menyamarkan proses ini dengan menjadi lagu-lagu itu semakin bervariasi dan berlainan satu sama lain.</div>
<div>
Meski begitu, berkarya dalam semangat orisinalitas, masih tetap dimiliki oleh sebagian musisi pop Indonesia. Setidaknya, ajang supremasi musik pop Indonesia melalui AMI (Anugerah Musik Indonesia) 2009, telah memiliki komitmen yang patut dibanggakan. Seperti pernyataan Tere, vokalis dan salah satu tim kategorisasi AMI, 5 Maret 2009 di Jakarta, ”karya lagu yang masuk nominasi AMI semaksimalnya telah melalui selektivitas yang ketat. Dalam proses seleksi, kami terus terang banyak menemukan karya yang memiliki kecenderungan menjiplak.”</div>
<div>
Meski melalui proses selektivitas yang ketat, namun AMI juga kecolongan. Pasalnya, lagu-lagu karya D’Massive dituduh oleh sebagian besar masyarakat penuikmat musik pop Indonesia adalah lagu hasil jiplakan dari karya orang lain. ”Kami memang keciolongan,” jelas Seno M. Hardjo seperti dimuat Kompas edisi 26 April 2009.</div>
<div>
Berkait dengan masalah penjiplakan/peniruan, mencoba merunut secara kronologis dapat ditemukan sejumlah karya lagu mirip yang berhasil terdektesi. Meniru atau menjiplak, bukan saja pada seluruh atau sebagian melodi lagu. Tapi juga pada warna sound, rhytm, intro, interlude, bridge, refrein/chorus, coda, dentuman bass, aransemen, dan lain sebagainya. Inilah catatannya :</div>
<div>..</div>
<div><img class="aligncenter size-full wp-image-22" title="tabel lagu ciplak 2" src="http://iustartanto.files.wordpress.com/2009/06/tabel-lagu-ciplak-21.jpg?w=500&#038;h=375" alt="tabel lagu ciplak 2" width="500" height="375" /></div>
<div>Nb: Tulisan sudah dimuat sebelumnya 27-05-2009 di</div>
<div><a href="http://iustartanto.blogspot.com/2009/05/virus-peniru-menjangkiti-artis-musik.html">http://iustartanto.blogspot.com/2009/05/virus-peniru-menjangkiti-artis-musik.html</a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iustartanto.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iustartanto.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=21&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iustartanto.wordpress.com/2009/06/10/21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93af25abe7ef98b106a5b95c5d40eebb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iustartanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iustartanto.files.wordpress.com/2009/06/tabel-lagu-ciplak-21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tabel lagu ciplak 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LAGU DAUR ULANG MENDULANG UANG</title>
		<link>http://iustartanto.wordpress.com/2009/04/20/lagu-daur-ulang-mendulang-uang/</link>
		<comments>http://iustartanto.wordpress.com/2009/04/20/lagu-daur-ulang-mendulang-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 05:40:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iustartanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik & Hiburan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iustartanto.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Ada beragam kiat yang kerap dilakukan para musisi dan pelaku bisnis industri musik pop rekaman agar meraih sukses. Salah satunya melakukan daur ulang lagu. Suatu kiat yang makin marak belakangan ini. Namun, tak semua berhasil memuaskan untuk mendaur ulang mendulang uang.    Oleh : Ius Tri Artanto               Istilah the song is not the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=12&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ada beragam kiat yang kerap dilakukan para musisi dan pelaku bisnis industri musik pop rekaman agar meraih sukses. Salah satunya melakukan daur ulang lagu. Suatu kiat yang makin marak belakangan ini. Namun, tak semua berhasil memuaskan untuk mendaur ulang mendulang uang.<span>  </span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Oleh : Ius Tri Artanto</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;margin:0;" align="center"><strong><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Istilah <em>the song is not the singer</em>, memang sudah tak asing bagi telinga para pelaku bisnis di industri musik rekaman. Konotasinya, lagu yang bagus bukan lantaran penyanyinya. Bisa simak karya apik The Beatles, ABBA, Carpenters, juga Queen, ketika disenandungkan beberapa penyanyi lain, ternyata tetap indah didengar. Bisa juga sebaliknya. Penyanyi hebat bisa membuat lagu biasa jadi enak didengar. Dan dalam kurun waktu belakangan ini, fenomenanya, banyak vokalis dan grup band mencoba menyanyikan lagu lama dinyanyikan ulang dalam polesan baru, yang akrab disebut lagu daur ulang (<em>recycle</em>). </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Di industri musik yang semakin kompetitif dan masif, nampaknya diperlukan upaya kreatif agar diterima pasar. Ada sejumlah kiat jitu yang telah teruji ampuh untuk menempuh penjualan album dengan angka membengkak. Misalnya, memoles lagu dengan aransemen yang sedang <em>trend</em>, mendaur ulang lagu, menjaga konsistensi selera pasar (tema lagu/melodi/lirik), serta menjadi <em>cover version</em> dan meniru konsep musik dari sosok artis musik yang eksis dan legendaris. Seperti kerap dilakukan musisi Indonesia sebagai <em>copycat</em> dengan menjiplak karya dan gaya khas dari The Beatles, The Rolling Stones, Queen, Bob Marley, U2, The Cure, dan yang dianggap pantas menjadi panutan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Terkait dengan masalah lagu daur ulang, dua tahun belakangan ini para produser, musisi, dan penyanyi mencoba mencari peluang di lahan kemasan lagu daur ulang yang semakin memadati pasar musik pop Indonesia. Sebelumnya, Ello lewat debut album perdananya berhasil sukses dengan lagu lawas <em>Pergi Untuk Kembali</em> yang sempat hit pada 1970-an hasil ciptaan ayahnya, Minggus Tahitoe, kemudian dinyanyikan ulang pada 2005. Lalu bagaimana dengan tahun 2007 hingga 2009? Ada catatan yang bisa ditelusuri. Sebut saja lagu <em>Bukannya Aku Takut</em>, awalnya dinyanyikan TBK (2004), di tahun 2008 dilantunkan kembali grup Juliette dan Mulan Jameela. Lalu lagu <em>Kisah Cintaku</em> yang sebelumnya dipopulerkan Chrisye pada 1990-an, di tahun Kerbau ini dicuatkan kembali Peter Pan. Menurut Indrawati Widjaja, eksekutif produser Musica Studio’s, lagu <em>Kisah Cintaku </em>awalnya merupakan lagu <em>Tribute to Chrisye</em> yang dinyanyikan Ariel Peter Pan, saat mengisi disalah satu acara televisi. ”Jadi lagu tersebut bukan dimaksudkan untuk mengikuti trend daur ulang. </span>Lagu tersebut dibawakan Peter Pan waktu ada acara <em>Tribute To Chrisye</em>. <span lang="SV">Dan pada waktu itu tanggapan penonton sangat positif, saat Ariel menyanyikan <em>Kisah Cintaku</em>. Kebetulan saya yang memilih <em>Kisah Cintaku</em> untuk dinyanyikan Ariel. <em>Feeling</em> saya mengatakan, Ariel akan pas membawakan lagu tersebut. Hasilnya ternyata tidak meleset dari dugaan saya. Lagu tersebut sukses. Bukan saja <em>RBT</em>-nya (<em>Ring Back Tone</em> &#8211; pen) juga penjualan albumnya. Dan efeknya, kini si penciptanya (Tito Sumarsono &#8211; pen) mendapat royalti yang lumayan bagus,” jelas Indrawati, yang akrab disapa Ibu Acin.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Masih tentang <em>Kisah Cintaku.</em> Lagu<span>  </span>versi terdahulu diaransemen Yongkie Suwarno dalam <em>low tempo</em> mirip <em>Lea</em>-nya Toto. Menariknya, lagu tersebut dinyanyikan ulang Ariel hampir serupa dengan Chrisye. Perbedaan, terletak pada tidak adanya vokal latar dan aransemennya. Aransemen <em>Kisah Cintaku</em> versi Ariel, mengingatkan balutan musik lagu <em>Living Years</em> (1989) dari Mike and The Mechanics dan OneRepublic, <em>Say/All I Need (2008)</em>. Namun, lepas dari itu, ciri khas <em>timbre</em> vokal Ariel cukup menguat, seperti yang pernah ia lakukan di lagu lawas/usang karya Titik Puspa, <em>Kupu-Kupu Malam</em> pada 2006.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Suatu kiat jitu, ketika lagu usang dinyanyikan ulang dengan teknik vokal rada mirip. Hal senada dilakukan grup Kastil dengan menggarap ulang lagu hit di tahun 1996 dari Stinky, <em>Jangan Tutup Dirimu</em>, refrainnya hampir mirip dengan <em>Next To You</em> milik Jermaine Jackson petikan album <em>Don’t Take It Personal</em>. Namun, kiat meramu menyanyikan secara mirip, tidaklah berlaku umum. Sebab, lagu <em>Nuansa Bening</em> yang pernah sohor melalui Keenan Nasution (1978) disuarakan ulang oleh Vidi Aldiano dengan kemasan <em>black music </em>(menyelipkan rap) dan teknik vokal yang berbeda dari Keenan, ternyata menyulut perhatian penikmat musik. Untuk ini, Aminoto Kosin dan Tohpati berperan besar dalam memoles lagu tersebut. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Seperti diakui Babe, salah seorang dari tim manajemen Vidi, mengungkapkan dalam suatu kesempatan di sebuah studio rekaman milik Ruth Sahanaya, ”Sebetulnya lagu <em>Nuansa Bening</em> tidak dimaksudkan sebagai lagu trend daur ulang. Vidi sendiri yang telah mendengarkan lagu <em>Nuansa Bening</em> dari koleksi ayahnya. Karena dirasa apik dan cocok lagunya, maka Vidi menyanyikannya sebagai penambah lagu di album solonya. Dan akhirnya pihak aranjer, dalam hal ini Aminoto dan Tohpati memberi nuansa yang berbeda.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Di lingkup mancanegara, sukses ini pernah diraih Phil Collins dengan <em>A</em> <em>Groovy Kind of Love </em>(<em>Buster</em>/1990) yang dahulu dipopulerkan Mindbanders (1966). Lalu <span> </span>Whitney Houston lewat <em>I Will Always Love You</em> (<em>OST The Bodyguard</em>/1992) dan grup vokal All-4-One menyanyikan <em>I </em>S<em>wear</em> (1994), aslinya berjenis country yang diaransemen ulang David Foster dengan konsep pop dan <em>doo-wop</em> (teknik vokal gaya gospel). Juga grup Blue dengan <em>featuring </em>Elton John di tahun 2004 mendaur ulang tembang <em>Sorry Seems To Be The Hardest Word </em>dari Elton John dengan versi solo, yang<span>  </span>sempat meroket di Amerika dan Inggris pada 1976. Begitu pun, Natalie Cole lewat lagu <em>Unforgettable</em> (1990) yang seolah berduet bersama ayahnya, Nat King Cole, padahal telah almarhum, karena bantuan kecanggihan teknologi rekaman segalanya jadi memungkinkan. <span lang="SV">Dan juga, sekitar 8 tahun lampau, Westlife menuju puncak mendaur ulang <em>I Have A Dream </em>dari ABBA pada 1979. Sukses daur ulang memang bukan cuma milik artis musik mancanegara dan Vidi. Tapi juga dialami Derby Romero, ketika lagu <em>Gelora Asmara</em> yang pernah dinyanyikan Groove Bandits dengan balutan <em>pop dance</em>, dilantunkan kembali dalam gaya vokal sedikit nge-rock sehingga berbeda dengan versi terdahulu. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Lagu <em>Gelora Asmara </em>kan papaku yang ciptain. Aku disuruh untuk menyanyikannya. Dan aku sih oke aja. Karena menurutku lagunya juga bagus,” papar Derby, di sebuah acara <span> </span>infotainment yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Derby, sebelumnya dikenal sebagai aktor cilik dalam <em>Petualangan Sherina</em> dan namanya kembali tenar berkat sinetron serial <em>Kepompong</em>. Kehadiran Vidi dan Derby, menjadi fenomena unik di tengah padatnya grup band baru cenderung setipe dengan aksi panggung klise (biasanya penonton disuruh menyanyi sehingga penonton berlaku sebagai <em>featuring</em>), kostum dan penampilan seragam, miskin orisinalitas, maupun tema lirik yang kerap seputar selingkuh. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sedangkan <em>Tiada Cinta Yang Lain</em> petikan album <em>Format Masa Depan</em> milik Dewa 19, dilagukan kembali Titi DJ (1999) dan grup vokal Dewi-Dewi (2007), namun tak terlalu fenomenal. Juga Dimas Beck, artis sinetron dan presenter, menyanyikan kembali <em>Ada Kamu </em>yang sempat top dalam solo album Irianti Erningpraja pada <span> </span>1985, tak mampu memukau perhatian. Seperti halnya Pinkan Mambo menyuarakan lagu <em>Kekasih Yang Tak Dianggap</em> yang pernah dinyanyikan grup band Kertas pada tahun yang sama (2008) dan <em>Setangkai Anggrek</em> <em>Bulan, </em>kurang meletupkan sukses maksimal. Bukan cuma itu. Lagu <em>Sakura </em>(1980) yang melekat kuat pada Fariz RM, <span> </span>versi teranyarnya tak sanggup melebihi sukses awalnya, ketika Rossa dan Chrisye kembali mengalunkan di tahun 2000 dan 2001. Juga album sangat fenomenal, <em>Badai Pasti Berlalu,</em> yang populer hasil garapan Eros Djarot dan Jockie Sorjoprayogo, serta divokalkan Chrisye pada tahun 1977. Walau juga dinyanyikan Broery Pesolima yang diiringi De Meicy dengan sampul kaset persis sama warna hijau dengan gambar Christin Hakim sedang berlari dan diselipkan foto Broery,<span>  </span>namun kurang punya greget (Remaco/1978). Sedangkan versi terbarunya yang dicoba dibuat ulang, justru kurang berhasil menyainginya, meski Chrisye bersama Erwin Gutawa mengemas kembali lewat album <em>Millenium Badai Pasti Berlalu</em> (Musica Studio’s/1999), dan juga Ari Lasso berserta kawan-kawan menyanyikan ulang dengan aransemen Andi Rianto (Sony BMG/2007). Dan hal serupa juga dilakukan Fariz RM, yang me-<em>recycle</em> lagunya sendiri; <em>Sakura, Barcelona, Selangkah Ke Seberang, Penari</em>, dan lain-lain, namun tak menimbulkan lejitan hit sebagaimana versi terdahalu. Mirip apa yang juga dilakukan Five Minutes untuk lagu <em>Selamat Tinggal</em> yang sempat terkenal pada tahun 1990-an dibuat lagi versi barunya pada 2005, serta Kla Project <span> </span>melakukan <em>re-arrangement</em> terhadap <em>Jogjakarta </em>dan <em>Semoga</em> pada 2009, kurang mencuatkan ledakan sukses. Namun, hal tersebut tak dialami Elfa’s Singer, yang juga mendaur ulang sejumlah <em>single</em> hitnya. Antara lain, lagu <em>Pesta</em> pada tahun 1987 yang kerap menjadi repertor <em>opening song</em> dari DJ untuk menyulut para disko mania berajojing memadati lantai dansa di beberapa <em>discotheque</em> papan atas Jakarta, dipoles ulang masih dengan irama dansa<em>.</em> Lalu, <em>Kembalikan Baliku</em> (1987) ciptaan Guruh Soekarno Putra, yang pernah sukses dinyanyikan Yopi Latul dikemas dalam<em> </em>gaya rasta. Sedangkan <span> </span><em>Kata Hatiku </em>digarap dengan koor ciri khas gaya Elfa, serta beberapa hit lainnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="SV">Menariknya juga, sejumlah lagu berteks bahasa Inggris dan Indonesia, yang dicoba didaur ulang artis musik Indonesia dan Asia, yaitu, Susan Wong kelahiran Hong Kong lewat <em>Close To You </em>(The Carpenters/1970), <em>Fly Me Yo The Moon </em>(Joe Harnell/1963), dan beberapa lainnya dengan konsep akustik minimalis, setidaknya pada 2003 diterima pasar Asia. Namun jauh sebelumnya pada 1980-an, melalui karya Oddie Agam, Sheila Madjid berhasil sukses mengalunkan lagu <em>Antara Anyer dan Jakarta</em>, yang sebelumnya dinyanyikan Ruth Sahanaya. Lalu sebaliknya, lagu <em>Cinta Jangan Kau Pergi</em> yang pernah hit pada 1990-an oleh Sheila Madjid, dinyanyikan kembali oleh Bunga Citra Lestari (2008) dan Vidi (2009). Sedangkan Syaharani <span> </span>menyanyikan kembali lagu <em>Whiter Shade of Pale</em> (2008) milik grup Procol Harum (1967) dan juga pernah <span> </span>dinyanyikan ulang oleh Annie Lennox yang terdapat di album solonya, <em>Medusa</em>,<em> </em>juga <em>soundtrack</em> film <em>The Net</em>. </span>Lalu, Agnes Monica <span> </span>melagukan <em>That’s What Friends are For </em>(<em>live</em>), lagu<span>  </span>top di 1985 pernah dinyanyikan sejumlah artis; Dionne Warwick, Stevie Wonder, Elton John, dan Gladys Knight. Selain itu,. Hady Mirza kelahiran Singapura, ikut pula meramaikan fenomena daur ulang lewat <em>You’ve Got A Friend</em> ciptaan Carole King dan menjadi hit pada 1971 berkat lantunan James Taylor. <span lang="SV">Namun, genggam kesuksesan yang maksimal nampaknya belum diraih para artis Indonesia dan Asia dalam melantunkan lagu-lagu barat. Seperti yang pernah terjadi pada Kla Project ketika membawakan secara single, <em>Don’t Be Cruel</em> (Elvis Presley) di tahun 1990-an <span> </span>dan Yana Julio menyanyikan <em>All I Am</em> (Heat Wave) pada sekitar akhir tahun 1990-an.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Jika begitu, alih-alih selera pasar musik sulit diprediksi. Daur ulang sebuah lagu tak selamanya bisa berbuah sukses. Perlu kepekaan menggagas konsep musik yang berbeda atau serupa dengan versi asli, serta kejelian dan sinkronisasi waktu, agar karya yang dilempar ke pasar mendapat tanggapan publik.. Seperti yang dilakukan D’Cinnamons pada Maret 2009 melakukan <em>re-arrangement</em> lagu<em> Galih dan Ratna</em> karya cipta Guruh Soekarno Putra, yang sangat populer pada 1980. Juga grup Marvells <em>featuring</em> Irfan (Seventeen), yang melantunkan ulang lagu <em>Burung Camar</em> secara <em>live</em> pada suatu konser beberapa waktu lalu, <em><span> </span></em>yang pernah dipopulerkan Vina Panduwinata di era 1980-an.<span>  </span>Dan yang aktual, grup Ten2Five yang pernah melejit dengan <em>I Will Fly</em> (2003) di Maret 2009 meluncurkan lagu tradisional <em>Ayam dan Lapeh</em>. Lantas apakah kemasan ulang mereka mampu menyaingi sukses versi terdahulunya? Entahlah. Karena banyak juga sederet lagu yang telah didaur ulang (<em>recycle</em>) untuk mendulang uang, tapi tak membuahkan hasil yang gemilang. Baik yang terjadi terhadap artis musik mancanegara juga artis musik Indonesia. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:200%;text-indent:36pt;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Note : Artikel ini pernah saya kirim ke beberapa suarat kabar, namun karena sesuatu hal, saya muat di blog ini. Artikel ini saya tulis pada 19 Maret 2009.</span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iustartanto.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iustartanto.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=12&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iustartanto.wordpress.com/2009/04/20/lagu-daur-ulang-mendulang-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93af25abe7ef98b106a5b95c5d40eebb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iustartanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENJIPLAK, MENIRU, MENYONTEK, MEMALSU, YANG PENTING LAKU</title>
		<link>http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/menjiplak-meniru-menyontek-memalsu-yang-penting-laku/</link>
		<comments>http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/menjiplak-meniru-menyontek-memalsu-yang-penting-laku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 15:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iustartanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi & Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iustartanto.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Meniru, menjiplak, atau menyontek, sejak kita masih duduk di bangku SD, setiap guiru pasti melarang kegiatan tersebut. Karena itu memang kegiatan nggak terpuji. Namun, kenyataannya, bukan cuma di bangku sekolah. Di dunia bisnis, contek menyontek atau memalsu sejumlah produk dianggap hal lumrah. Jika kita mencoba berjalan menyusuri toko, pasar, mal, plaza, town squre, supermarket, banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=6&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Meniru, menjiplak, atau menyontek, sejak kita masih duduk di bangku SD, setiap guiru pasti melarang kegiatan tersebut. Karena itu memang kegiatan nggak terpuji. Namun, kenyataannya, bukan cuma di bangku sekolah. Di dunia bisnis, contek menyontek atau memalsu sejumlah produk dianggap hal lumrah. Jika kita mencoba berjalan menyusuri toko, pasar, mal, plaza, town squre, supermarket, banyak barang yang bisa ditemukan adalah hasil pemalsuan. Mulai dari tiruan celana dalam, jins, kemeja, kaos, jam tangan, sepatu, ikat pinggang, tas, dompet, dan lain sebagainya pasti ada aspalnya alias asli tapi palsu. Ini erat berkaiatan dengan karakter manusia, yang ingin mengaktualisasikan dirinya dengan berbagai cara, salah satunya penampilan. Dasar inilah yang memotivasi munculnya sejumlah produk aspal. Karena produk aspal juga punya penggemarnya.</p>
<p>Itu soal niru atau memalsu barang. Sedang meniru lainnya adalah produk jasa. Banyak tayangan program televisi juga hasil dari tiru meniru. Televisi A meniru program televisi B, begitu juga sebaalik, serta peniruan juga bisa mengadopsi program-program televisi luar negeri. Baik itu di sinetron, kuiz, acara musik, talk show, juga variety show. Dan yang sebetulnya makin memprihatinkan adalah banyak lagu pop Indonesia adalah hasil contekan atau jiplakan. Tapi ngga usah khawatir. Karena hal tersebut sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Sejak tahun 70-an hingga era digital seperti sekarang ini, yang namanya nyontek di dunia musik sudah lumrah. Juga di dunia film. dan sinetron Ada film/sinetron yang mirip milik produksi Hollywood, Eropa, Jepang, Korea (khususnya film-film horor), Mexico, Argentina (khususnya sinetron).</p>
<p>Mungkin peniruan barang berupa pakaian, jam tangan, atau tas, orang-orang mungkin masih bisa memaklumi dengan senyuman. Tapi meniru di dunia seni, seluruh dunia menjadi bersedih dan menangis. Sebab yang namanya seniman itu harus jujur. Jujur artinya, ketika dia berkarya ia juga sanggup mengakui bahwa karyanya adalah menjiplak atau mencontek. Seperti halnya Madonna yang juga mengakui bahwa ia mengambil intro lagunya Gimme Gimme dari ABBA. Atau Konkan ketika menyanyikan lagu Harry Houdini mengaku menyelipkan notasi dari lagu The Tide is Hide, yang pernah dipopulerkan oleh Blondie, Kim Wilde, dan Atomic Kitten.</p>
<p>Dan, biasanya pencipta lagu selalu berkelit di balik peraturan konvensi Bern, yang menyatakan jika lagu tidak lebih dari delapan bar berarti tidak nyontek. Atau alasan lainnya, not itu kan cuma tujuah, jadi wajar kalo mirip. Jika begitu alasannya memang ga jadi soal. Tapi kalo kenyataannya memang nyontek kenapa harus berkelit?! Malah ada yang bangga, yang penting laku dan orang suka. Kalo gitu, ya akhirnya kita tahu, musikus yang bersangkutan itu bukan seniman, tapi hanyalah pedagang&#8230;. Dan kita sudah memakluminya kok. Buktinya, lagu-lagu nyontek itu tetap disuka dan diputar di radio-radio dengan request yang tinggi.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iustartanto.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iustartanto.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=6&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/menjiplak-meniru-menyontek-memalsu-yang-penting-laku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93af25abe7ef98b106a5b95c5d40eebb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iustartanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONVERGENSI MEDIA INFORMASI YANG MELUBER</title>
		<link>http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/konvergensi-media-informasi-yang-meluber/</link>
		<comments>http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/konvergensi-media-informasi-yang-meluber/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 15:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iustartanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi & Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/konvergensi-media-informasi-yang-meluber/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Handbook of New Media karya Leah A Lievrouw dan Sonia Liviston, ciri media baru adalah storege, screen, audio, visual, yang memungkinkan media tersebut memiliki multi fungsi. Contohnya, telepon genggam awalnya cuma bisa untuk berkomunikasi secara oral, sejak akhir 1990-an bisa saling mengirim teks (SMS), kirim gambar (3G), kini juga bisa dengar radio, serta dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=3&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Handbook of New Media karya Leah A Lievrouw dan Sonia Liviston, ciri media baru adalah storege, screen, audio, visual, yang memungkinkan media tersebut memiliki multi fungsi. Contohnya, telepon genggam awalnya cuma bisa untuk berkomunikasi secara oral, sejak akhir 1990-an bisa saling mengirim teks (SMS), kirim gambar (3G), kini juga bisa dengar radio, serta dapat juga melakukan koneksi seperti halnya PC atau notebook. Di internet kita bisa memanfaatkan media on line, jejaring sosial (friendster, facebook, youtube, YM, flicker), koran digital/e-paper, yang melebur jadi satu (konvergensi media). Lebih luasnya, kita bisa nonton tivi, video, dengar radio, baca koran, dan berkomunikasi secara pribadi maupun grup/komunitas hanya melalui satu media komputer. Inilah langkah raksasa dari pesatnya teknologi komunikasi, yang semakin memudahkan seseorang untuk saling berkomunikai. Seperti istilah dari Marshall McLuhan, suatu saat dunia yang kita pijak akan menjadi sebuah desa global (global village).</p>
<p>Dan, pernyatan McLuhan terbukti. segala peristiwa di belahan bumi lain bisa disaksikan dalam sekejab, berkat fasilitas satelit, digitalisasi media, dan sejumlah perangkat pendukung lainnya. Contoh aktual adalah pelantikan Presiden AS Obama, yang dapat disaksikan oleh seluruh warga dunia via televisi meski kejadiannya di Capitol Hill. Washington DC, AS. Bukan cuma itu. Peristiwa tersebut, juga dapat diakses melalui internet. Dan akibatnya, segala informasi (teks, gambar, film, audio, simbol, dan tanda) bisa kita akses melalui PC, hp, notebook berkat kecanggihan internet. Sehingga pesan-pesan yang tersebar di rimba virtual/cyber space diakses oleh si pengguna (user) untuk mendapati informasi yang dibutuhkan. Meski dalam konteks ilmu komunikasi, seseorang akan menyeleksi pesan dari media sesuai kegunaan dan kebutuhannya. Namun, tanpa disadari, pesan-pesan yang menerpa tak bisa dihindari menancap di benak komunikan secara kognisi, afeksi, dan konasi. Melubernya informasi yang terdapat di setiap media menjadikan zaman ini menjadi zaman informasi, seperti yang pernah ditulis oleh Alvin Toffler bahwa dunia mengalami tiga gelombang, yaitu agraris, industri, dan informasi. Maka tak heran, jika 12 tahun lampau (1997), tema film James Bond agen 007 mengangkat tentang konglomerasi dan hegemoni media dalam Tomorrow Never Diesyang disutradarai Roger Spottiswoode dan dibintangi Pierce Brosnan dan Jonathan Pryce dengan theme song apik dari Sheryl Crow. Melubernya informasi karena konvergensi media, memang diperlukan tingkat selektivitas yang tinggi, agar informasi yang kita terima tidak menjadi mubazir.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/iustartanto.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/iustartanto.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=iustartanto.wordpress.com&amp;blog=6500835&amp;post=3&amp;subd=iustartanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iustartanto.wordpress.com/2009/02/08/konvergensi-media-informasi-yang-meluber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93af25abe7ef98b106a5b95c5d40eebb?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">iustartanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
