Meniru, menjiplak, atau menyontek, sejak kita masih duduk di bangku SD, setiap guiru pasti melarang kegiatan tersebut. Karena itu memang kegiatan nggak terpuji. Namun, kenyataannya, bukan cuma di bangku sekolah. Di dunia bisnis, contek menyontek atau memalsu sejumlah produk dianggap hal lumrah. Jika kita mencoba berjalan menyusuri toko, pasar, mal, plaza, town squre, supermarket, banyak barang yang bisa ditemukan adalah hasil pemalsuan. Mulai dari tiruan celana dalam, jins, kemeja, kaos, jam tangan, sepatu, ikat pinggang, tas, dompet, dan lain sebagainya pasti ada aspalnya alias asli tapi palsu. Ini erat berkaiatan dengan karakter manusia, yang ingin mengaktualisasikan dirinya dengan berbagai cara, salah satunya penampilan. Dasar inilah yang memotivasi munculnya sejumlah produk aspal. Karena produk aspal juga punya penggemarnya.
Itu soal niru atau memalsu barang. Sedang meniru lainnya adalah produk jasa. Banyak tayangan program televisi juga hasil dari tiru meniru. Televisi A meniru program televisi B, begitu juga sebaalik, serta peniruan juga bisa mengadopsi program-program televisi luar negeri. Baik itu di sinetron, kuiz, acara musik, talk show, juga variety show. Dan yang sebetulnya makin memprihatinkan adalah banyak lagu pop Indonesia adalah hasil contekan atau jiplakan. Tapi ngga usah khawatir. Karena hal tersebut sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Sejak tahun 70-an hingga era digital seperti sekarang ini, yang namanya nyontek di dunia musik sudah lumrah. Juga di dunia film. dan sinetron Ada film/sinetron yang mirip milik produksi Hollywood, Eropa, Jepang, Korea (khususnya film-film horor), Mexico, Argentina (khususnya sinetron).
Mungkin peniruan barang berupa pakaian, jam tangan, atau tas, orang-orang mungkin masih bisa memaklumi dengan senyuman. Tapi meniru di dunia seni, seluruh dunia menjadi bersedih dan menangis. Sebab yang namanya seniman itu harus jujur. Jujur artinya, ketika dia berkarya ia juga sanggup mengakui bahwa karyanya adalah menjiplak atau mencontek. Seperti halnya Madonna yang juga mengakui bahwa ia mengambil intro lagunya Gimme Gimme dari ABBA. Atau Konkan ketika menyanyikan lagu Harry Houdini mengaku menyelipkan notasi dari lagu The Tide is Hide, yang pernah dipopulerkan oleh Blondie, Kim Wilde, dan Atomic Kitten.
Dan, biasanya pencipta lagu selalu berkelit di balik peraturan konvensi Bern, yang menyatakan jika lagu tidak lebih dari delapan bar berarti tidak nyontek. Atau alasan lainnya, not itu kan cuma tujuah, jadi wajar kalo mirip. Jika begitu alasannya memang ga jadi soal. Tapi kalo kenyataannya memang nyontek kenapa harus berkelit?! Malah ada yang bangga, yang penting laku dan orang suka. Kalo gitu, ya akhirnya kita tahu, musikus yang bersangkutan itu bukan seniman, tapi hanyalah pedagang…. Dan kita sudah memakluminya kok. Buktinya, lagu-lagu nyontek itu tetap disuka dan diputar di radio-radio dengan request yang tinggi.