

Ditulis dalam 1 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Ada beragam kiat yang kerap dilakukan para musisi dan pelaku bisnis industri musik pop rekaman agar meraih sukses. Salah satunya melakukan daur ulang lagu. Suatu kiat yang makin marak belakangan ini. Namun, tak semua berhasil memuaskan untuk mendaur ulang mendulang uang.
Oleh : Ius Tri Artanto
Istilah the song is not the singer, memang sudah tak asing bagi telinga para pelaku bisnis di industri musik rekaman. Konotasinya, lagu yang bagus bukan lantaran penyanyinya. Bisa simak karya apik The Beatles, ABBA, Carpenters, juga Queen, ketika disenandungkan beberapa penyanyi lain, ternyata tetap indah didengar. Bisa juga sebaliknya. Penyanyi hebat bisa membuat lagu biasa jadi enak didengar. Dan dalam kurun waktu belakangan ini, fenomenanya, banyak vokalis dan grup band mencoba menyanyikan lagu lama dinyanyikan ulang dalam polesan baru, yang akrab disebut lagu daur ulang (recycle).
Di industri musik yang semakin kompetitif dan masif, nampaknya diperlukan upaya kreatif agar diterima pasar. Ada sejumlah kiat jitu yang telah teruji ampuh untuk menempuh penjualan album dengan angka membengkak. Misalnya, memoles lagu dengan aransemen yang sedang trend, mendaur ulang lagu, menjaga konsistensi selera pasar (tema lagu/melodi/lirik), serta menjadi cover version dan meniru konsep musik dari sosok artis musik yang eksis dan legendaris. Seperti kerap dilakukan musisi Indonesia sebagai copycat dengan menjiplak karya dan gaya khas dari The Beatles, The Rolling Stones, Queen, Bob Marley, U2, The Cure, dan yang dianggap pantas menjadi panutan.
Terkait dengan masalah lagu daur ulang, dua tahun belakangan ini para produser, musisi, dan penyanyi mencoba mencari peluang di lahan kemasan lagu daur ulang yang semakin memadati pasar musik pop Indonesia. Sebelumnya, Ello lewat debut album perdananya berhasil sukses dengan lagu lawas Pergi Untuk Kembali yang sempat hit pada 1970-an hasil ciptaan ayahnya, Minggus Tahitoe, kemudian dinyanyikan ulang pada 2005. Lalu bagaimana dengan tahun 2007 hingga 2009? Ada catatan yang bisa ditelusuri. Sebut saja lagu Bukannya Aku Takut, awalnya dinyanyikan TBK (2004), di tahun 2008 dilantunkan kembali grup Juliette dan Mulan Jameela. Lalu lagu Kisah Cintaku yang sebelumnya dipopulerkan Chrisye pada 1990-an, di tahun Kerbau ini dicuatkan kembali Peter Pan. Menurut Indrawati Widjaja, eksekutif produser Musica Studio’s, lagu Kisah Cintaku awalnya merupakan lagu Tribute to Chrisye yang dinyanyikan Ariel Peter Pan, saat mengisi disalah satu acara televisi. ”Jadi lagu tersebut bukan dimaksudkan untuk mengikuti trend daur ulang. Lagu tersebut dibawakan Peter Pan waktu ada acara Tribute To Chrisye. Dan pada waktu itu tanggapan penonton sangat positif, saat Ariel menyanyikan Kisah Cintaku. Kebetulan saya yang memilih Kisah Cintaku untuk dinyanyikan Ariel. Feeling saya mengatakan, Ariel akan pas membawakan lagu tersebut. Hasilnya ternyata tidak meleset dari dugaan saya. Lagu tersebut sukses. Bukan saja RBT-nya (Ring Back Tone – pen) juga penjualan albumnya. Dan efeknya, kini si penciptanya (Tito Sumarsono – pen) mendapat royalti yang lumayan bagus,” jelas Indrawati, yang akrab disapa Ibu Acin.
Masih tentang Kisah Cintaku. Lagu versi terdahulu diaransemen Yongkie Suwarno dalam low tempo mirip Lea-nya Toto. Menariknya, lagu tersebut dinyanyikan ulang Ariel hampir serupa dengan Chrisye. Perbedaan, terletak pada tidak adanya vokal latar dan aransemennya. Aransemen Kisah Cintaku versi Ariel, mengingatkan balutan musik lagu Living Years (1989) dari Mike and The Mechanics dan OneRepublic, Say/All I Need (2008). Namun, lepas dari itu, ciri khas timbre vokal Ariel cukup menguat, seperti yang pernah ia lakukan di lagu lawas/usang karya Titik Puspa, Kupu-Kupu Malam pada 2006.
Suatu kiat jitu, ketika lagu usang dinyanyikan ulang dengan teknik vokal rada mirip. Hal senada dilakukan grup Kastil dengan menggarap ulang lagu hit di tahun 1996 dari Stinky, Jangan Tutup Dirimu, refrainnya hampir mirip dengan Next To You milik Jermaine Jackson petikan album Don’t Take It Personal. Namun, kiat meramu menyanyikan secara mirip, tidaklah berlaku umum. Sebab, lagu Nuansa Bening yang pernah sohor melalui Keenan Nasution (1978) disuarakan ulang oleh Vidi Aldiano dengan kemasan black music (menyelipkan rap) dan teknik vokal yang berbeda dari Keenan, ternyata menyulut perhatian penikmat musik. Untuk ini, Aminoto Kosin dan Tohpati berperan besar dalam memoles lagu tersebut.
Seperti diakui Babe, salah seorang dari tim manajemen Vidi, mengungkapkan dalam suatu kesempatan di sebuah studio rekaman milik Ruth Sahanaya, ”Sebetulnya lagu Nuansa Bening tidak dimaksudkan sebagai lagu trend daur ulang. Vidi sendiri yang telah mendengarkan lagu Nuansa Bening dari koleksi ayahnya. Karena dirasa apik dan cocok lagunya, maka Vidi menyanyikannya sebagai penambah lagu di album solonya. Dan akhirnya pihak aranjer, dalam hal ini Aminoto dan Tohpati memberi nuansa yang berbeda.”
Di lingkup mancanegara, sukses ini pernah diraih Phil Collins dengan A Groovy Kind of Love (Buster/1990) yang dahulu dipopulerkan Mindbanders (1966). Lalu Whitney Houston lewat I Will Always Love You (OST The Bodyguard/1992) dan grup vokal All-4-One menyanyikan I Swear (1994), aslinya berjenis country yang diaransemen ulang David Foster dengan konsep pop dan doo-wop (teknik vokal gaya gospel). Juga grup Blue dengan featuring Elton John di tahun 2004 mendaur ulang tembang Sorry Seems To Be The Hardest Word dari Elton John dengan versi solo, yang sempat meroket di Amerika dan Inggris pada 1976. Begitu pun, Natalie Cole lewat lagu Unforgettable (1990) yang seolah berduet bersama ayahnya, Nat King Cole, padahal telah almarhum, karena bantuan kecanggihan teknologi rekaman segalanya jadi memungkinkan. Dan juga, sekitar 8 tahun lampau, Westlife menuju puncak mendaur ulang I Have A Dream dari ABBA pada 1979. Sukses daur ulang memang bukan cuma milik artis musik mancanegara dan Vidi. Tapi juga dialami Derby Romero, ketika lagu Gelora Asmara yang pernah dinyanyikan Groove Bandits dengan balutan pop dance, dilantunkan kembali dalam gaya vokal sedikit nge-rock sehingga berbeda dengan versi terdahulu.
”Lagu Gelora Asmara kan papaku yang ciptain. Aku disuruh untuk menyanyikannya. Dan aku sih oke aja. Karena menurutku lagunya juga bagus,” papar Derby, di sebuah acara infotainment yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta.
Derby, sebelumnya dikenal sebagai aktor cilik dalam Petualangan Sherina dan namanya kembali tenar berkat sinetron serial Kepompong. Kehadiran Vidi dan Derby, menjadi fenomena unik di tengah padatnya grup band baru cenderung setipe dengan aksi panggung klise (biasanya penonton disuruh menyanyi sehingga penonton berlaku sebagai featuring), kostum dan penampilan seragam, miskin orisinalitas, maupun tema lirik yang kerap seputar selingkuh.
Sedangkan Tiada Cinta Yang Lain petikan album Format Masa Depan milik Dewa 19, dilagukan kembali Titi DJ (1999) dan grup vokal Dewi-Dewi (2007), namun tak terlalu fenomenal. Juga Dimas Beck, artis sinetron dan presenter, menyanyikan kembali Ada Kamu yang sempat top dalam solo album Irianti Erningpraja pada 1985, tak mampu memukau perhatian. Seperti halnya Pinkan Mambo menyuarakan lagu Kekasih Yang Tak Dianggap yang pernah dinyanyikan grup band Kertas pada tahun yang sama (2008) dan Setangkai Anggrek Bulan, kurang meletupkan sukses maksimal. Bukan cuma itu. Lagu Sakura (1980) yang melekat kuat pada Fariz RM, versi teranyarnya tak sanggup melebihi sukses awalnya, ketika Rossa dan Chrisye kembali mengalunkan di tahun 2000 dan 2001. Juga album sangat fenomenal, Badai Pasti Berlalu, yang populer hasil garapan Eros Djarot dan Jockie Sorjoprayogo, serta divokalkan Chrisye pada tahun 1977. Walau juga dinyanyikan Broery Pesolima yang diiringi De Meicy dengan sampul kaset persis sama warna hijau dengan gambar Christin Hakim sedang berlari dan diselipkan foto Broery, namun kurang punya greget (Remaco/1978). Sedangkan versi terbarunya yang dicoba dibuat ulang, justru kurang berhasil menyainginya, meski Chrisye bersama Erwin Gutawa mengemas kembali lewat album Millenium Badai Pasti Berlalu (Musica Studio’s/1999), dan juga Ari Lasso berserta kawan-kawan menyanyikan ulang dengan aransemen Andi Rianto (Sony BMG/2007). Dan hal serupa juga dilakukan Fariz RM, yang me-recycle lagunya sendiri; Sakura, Barcelona, Selangkah Ke Seberang, Penari, dan lain-lain, namun tak menimbulkan lejitan hit sebagaimana versi terdahalu. Mirip apa yang juga dilakukan Five Minutes untuk lagu Selamat Tinggal yang sempat terkenal pada tahun 1990-an dibuat lagi versi barunya pada 2005, serta Kla Project melakukan re-arrangement terhadap Jogjakarta dan Semoga pada 2009, kurang mencuatkan ledakan sukses. Namun, hal tersebut tak dialami Elfa’s Singer, yang juga mendaur ulang sejumlah single hitnya. Antara lain, lagu Pesta pada tahun 1987 yang kerap menjadi repertor opening song dari DJ untuk menyulut para disko mania berajojing memadati lantai dansa di beberapa discotheque papan atas Jakarta, dipoles ulang masih dengan irama dansa. Lalu, Kembalikan Baliku (1987) ciptaan Guruh Soekarno Putra, yang pernah sukses dinyanyikan Yopi Latul dikemas dalam gaya rasta. Sedangkan Kata Hatiku digarap dengan koor ciri khas gaya Elfa, serta beberapa hit lainnya.
Menariknya juga, sejumlah lagu berteks bahasa Inggris dan Indonesia, yang dicoba didaur ulang artis musik Indonesia dan Asia, yaitu, Susan Wong kelahiran Hong Kong lewat Close To You (The Carpenters/1970), Fly Me Yo The Moon (Joe Harnell/1963), dan beberapa lainnya dengan konsep akustik minimalis, setidaknya pada 2003 diterima pasar Asia. Namun jauh sebelumnya pada 1980-an, melalui karya Oddie Agam, Sheila Madjid berhasil sukses mengalunkan lagu Antara Anyer dan Jakarta, yang sebelumnya dinyanyikan Ruth Sahanaya. Lalu sebaliknya, lagu Cinta Jangan Kau Pergi yang pernah hit pada 1990-an oleh Sheila Madjid, dinyanyikan kembali oleh Bunga Citra Lestari (2008) dan Vidi (2009). Sedangkan Syaharani menyanyikan kembali lagu Whiter Shade of Pale (2008) milik grup Procol Harum (1967) dan juga pernah dinyanyikan ulang oleh Annie Lennox yang terdapat di album solonya, Medusa, juga soundtrack film The Net. Lalu, Agnes Monica melagukan That’s What Friends are For (live), lagu top di 1985 pernah dinyanyikan sejumlah artis; Dionne Warwick, Stevie Wonder, Elton John, dan Gladys Knight. Selain itu,. Hady Mirza kelahiran Singapura, ikut pula meramaikan fenomena daur ulang lewat You’ve Got A Friend ciptaan Carole King dan menjadi hit pada 1971 berkat lantunan James Taylor. Namun, genggam kesuksesan yang maksimal nampaknya belum diraih para artis Indonesia dan Asia dalam melantunkan lagu-lagu barat. Seperti yang pernah terjadi pada Kla Project ketika membawakan secara single, Don’t Be Cruel (Elvis Presley) di tahun 1990-an dan Yana Julio menyanyikan All I Am (Heat Wave) pada sekitar akhir tahun 1990-an.
Jika begitu, alih-alih selera pasar musik sulit diprediksi. Daur ulang sebuah lagu tak selamanya bisa berbuah sukses. Perlu kepekaan menggagas konsep musik yang berbeda atau serupa dengan versi asli, serta kejelian dan sinkronisasi waktu, agar karya yang dilempar ke pasar mendapat tanggapan publik.. Seperti yang dilakukan D’Cinnamons pada Maret 2009 melakukan re-arrangement lagu Galih dan Ratna karya cipta Guruh Soekarno Putra, yang sangat populer pada 1980. Juga grup Marvells featuring Irfan (Seventeen), yang melantunkan ulang lagu Burung Camar secara live pada suatu konser beberapa waktu lalu, yang pernah dipopulerkan Vina Panduwinata di era 1980-an. Dan yang aktual, grup Ten2Five yang pernah melejit dengan I Will Fly (2003) di Maret 2009 meluncurkan lagu tradisional Ayam dan Lapeh. Lantas apakah kemasan ulang mereka mampu menyaingi sukses versi terdahulunya? Entahlah. Karena banyak juga sederet lagu yang telah didaur ulang (recycle) untuk mendulang uang, tapi tak membuahkan hasil yang gemilang. Baik yang terjadi terhadap artis musik mancanegara juga artis musik Indonesia.
Note : Artikel ini pernah saya kirim ke beberapa suarat kabar, namun karena sesuatu hal, saya muat di blog ini. Artikel ini saya tulis pada 19 Maret 2009.
Ditulis dalam Musik & Hiburan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Meniru, menjiplak, atau menyontek, sejak kita masih duduk di bangku SD, setiap guiru pasti melarang kegiatan tersebut. Karena itu memang kegiatan nggak terpuji. Namun, kenyataannya, bukan cuma di bangku sekolah. Di dunia bisnis, contek menyontek atau memalsu sejumlah produk dianggap hal lumrah. Jika kita mencoba berjalan menyusuri toko, pasar, mal, plaza, town squre, supermarket, banyak barang yang bisa ditemukan adalah hasil pemalsuan. Mulai dari tiruan celana dalam, jins, kemeja, kaos, jam tangan, sepatu, ikat pinggang, tas, dompet, dan lain sebagainya pasti ada aspalnya alias asli tapi palsu. Ini erat berkaiatan dengan karakter manusia, yang ingin mengaktualisasikan dirinya dengan berbagai cara, salah satunya penampilan. Dasar inilah yang memotivasi munculnya sejumlah produk aspal. Karena produk aspal juga punya penggemarnya.
Itu soal niru atau memalsu barang. Sedang meniru lainnya adalah produk jasa. Banyak tayangan program televisi juga hasil dari tiru meniru. Televisi A meniru program televisi B, begitu juga sebaalik, serta peniruan juga bisa mengadopsi program-program televisi luar negeri. Baik itu di sinetron, kuiz, acara musik, talk show, juga variety show. Dan yang sebetulnya makin memprihatinkan adalah banyak lagu pop Indonesia adalah hasil contekan atau jiplakan. Tapi ngga usah khawatir. Karena hal tersebut sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Sejak tahun 70-an hingga era digital seperti sekarang ini, yang namanya nyontek di dunia musik sudah lumrah. Juga di dunia film. dan sinetron Ada film/sinetron yang mirip milik produksi Hollywood, Eropa, Jepang, Korea (khususnya film-film horor), Mexico, Argentina (khususnya sinetron).
Mungkin peniruan barang berupa pakaian, jam tangan, atau tas, orang-orang mungkin masih bisa memaklumi dengan senyuman. Tapi meniru di dunia seni, seluruh dunia menjadi bersedih dan menangis. Sebab yang namanya seniman itu harus jujur. Jujur artinya, ketika dia berkarya ia juga sanggup mengakui bahwa karyanya adalah menjiplak atau mencontek. Seperti halnya Madonna yang juga mengakui bahwa ia mengambil intro lagunya Gimme Gimme dari ABBA. Atau Konkan ketika menyanyikan lagu Harry Houdini mengaku menyelipkan notasi dari lagu The Tide is Hide, yang pernah dipopulerkan oleh Blondie, Kim Wilde, dan Atomic Kitten.
Dan, biasanya pencipta lagu selalu berkelit di balik peraturan konvensi Bern, yang menyatakan jika lagu tidak lebih dari delapan bar berarti tidak nyontek. Atau alasan lainnya, not itu kan cuma tujuah, jadi wajar kalo mirip. Jika begitu alasannya memang ga jadi soal. Tapi kalo kenyataannya memang nyontek kenapa harus berkelit?! Malah ada yang bangga, yang penting laku dan orang suka. Kalo gitu, ya akhirnya kita tahu, musikus yang bersangkutan itu bukan seniman, tapi hanyalah pedagang…. Dan kita sudah memakluminya kok. Buktinya, lagu-lagu nyontek itu tetap disuka dan diputar di radio-radio dengan request yang tinggi.
Ditulis dalam Komunikasi & Media Massa | Tinggalkan sebuah Komentar »
Dalam Handbook of New Media karya Leah A Lievrouw dan Sonia Liviston, ciri media baru adalah storege, screen, audio, visual, yang memungkinkan media tersebut memiliki multi fungsi. Contohnya, telepon genggam awalnya cuma bisa untuk berkomunikasi secara oral, sejak akhir 1990-an bisa saling mengirim teks (SMS), kirim gambar (3G), kini juga bisa dengar radio, serta dapat juga melakukan koneksi seperti halnya PC atau notebook. Di internet kita bisa memanfaatkan media on line, jejaring sosial (friendster, facebook, youtube, YM, flicker), koran digital/e-paper, yang melebur jadi satu (konvergensi media). Lebih luasnya, kita bisa nonton tivi, video, dengar radio, baca koran, dan berkomunikasi secara pribadi maupun grup/komunitas hanya melalui satu media komputer. Inilah langkah raksasa dari pesatnya teknologi komunikasi, yang semakin memudahkan seseorang untuk saling berkomunikai. Seperti istilah dari Marshall McLuhan, suatu saat dunia yang kita pijak akan menjadi sebuah desa global (global village).
Dan, pernyatan McLuhan terbukti. segala peristiwa di belahan bumi lain bisa disaksikan dalam sekejab, berkat fasilitas satelit, digitalisasi media, dan sejumlah perangkat pendukung lainnya. Contoh aktual adalah pelantikan Presiden AS Obama, yang dapat disaksikan oleh seluruh warga dunia via televisi meski kejadiannya di Capitol Hill. Washington DC, AS. Bukan cuma itu. Peristiwa tersebut, juga dapat diakses melalui internet. Dan akibatnya, segala informasi (teks, gambar, film, audio, simbol, dan tanda) bisa kita akses melalui PC, hp, notebook berkat kecanggihan internet. Sehingga pesan-pesan yang tersebar di rimba virtual/cyber space diakses oleh si pengguna (user) untuk mendapati informasi yang dibutuhkan. Meski dalam konteks ilmu komunikasi, seseorang akan menyeleksi pesan dari media sesuai kegunaan dan kebutuhannya. Namun, tanpa disadari, pesan-pesan yang menerpa tak bisa dihindari menancap di benak komunikan secara kognisi, afeksi, dan konasi. Melubernya informasi yang terdapat di setiap media menjadikan zaman ini menjadi zaman informasi, seperti yang pernah ditulis oleh Alvin Toffler bahwa dunia mengalami tiga gelombang, yaitu agraris, industri, dan informasi. Maka tak heran, jika 12 tahun lampau (1997), tema film James Bond agen 007 mengangkat tentang konglomerasi dan hegemoni media dalam Tomorrow Never Diesyang disutradarai Roger Spottiswoode dan dibintangi Pierce Brosnan dan Jonathan Pryce dengan theme song apik dari Sheryl Crow. Melubernya informasi karena konvergensi media, memang diperlukan tingkat selektivitas yang tinggi, agar informasi yang kita terima tidak menjadi mubazir.
Ditulis dalam Komunikasi & Media Massa | Tinggalkan sebuah Komentar »